Jamu (+3 Menu Lain) di Kota Mamakku: Kota Magelang

Kota Magelang menyimpan banyak kenangan buatku, terutama akan masa kecil dan Mi (tampaknya, Seseorang sangat cinta Mi sehingga Dia cepat-cepat memanggilnya pulang). Aku jalan keliling sembari menapak tilas perjalanan hidupnya dan memunguti kisah-kisah tentang dia, salah satunya melalui kesukaannya akan makanan dan minuman.

magelang-jalan-kaki-by-sem-purba1-768x475

Aku keliling kota yang kebetulan kecil dan dapat dijalani dari ujung ke ujungnya dengan jalan kaki! ya, aku serius. Kota Magelang itu luasnya sekitar 18 kilometer persegi, sementara Kabupaten Magelang luasnya sekitar 1.000 kilometer persegi! Semua in walking distance. Jadi, aku wisata kuliner sambil jalan kaki. Berikut ini beberapa menu yang aku sukai:

Kupat Tahu

Mi dulu biasanya bikin tahu saja, tanpa ketupat. Kali ini aku mencobanya di pusat, yaitu di Jl. Tentara Pelajar. Sesuai nama jadulnya, Aloon2 West aka Bajemanweg, deretan kedai yang jualan menu ini terletak persisi di bagian barat Alun-alun kota. Ada sekitar lima kedai jual menu yang sama. Hebat kan? Sejumlah kenalan merekomendasikan Warung Slamet, lainnya Warung Pojok. Tapi, ‘pojok’ yang mana kalau ada dua Warung Pojok? Akhirnya aku coba semua. Tentu saja tidak di hari yang sama!

sempurba-magelangKeistimewaannya terletak di rasa asam, pedas, gurih dari bumbu kacang; kesegaran sayuran; dan kekenyalan dan kelezatan tahu goreng. Makanan dibuat begitu dipesan. Aku suka memperhatikan ibu-ibu mempersiapkannya. “Berapa cabainya?” tanya dia. Dua saja, jawabku. Jadi, pertama-tama, dia mengulek cabai dan beberapa bumbu. Lalu, dia goreng tahu. Dalam keadaan baru diangkat dan bermandikan minyak (ingat, fat is flavor!), tahu itu dipotong-potong. Setelah itu, tahu ditimpa sayuran seperti tauge dan kubis. Puncaknya, kuah disiramkan ke bahan-bahan, lalu menu diantar ke meja. Nyam!

Getuk

Dengan mudahnya aku menjumpai kue pulen yang berkilat-kilat permukaannya ini, di pasar, di kaki lima, dan di toko-toko pusat oleh-oleh. Selidik punya selidik, gethuk dibuat dari singkong kukus (ingat lagu “gethuk asale soko telo“? Itu dah!), margarin, dan bumbu-bumbu lain.  Mi dulu suka beli getuk merek Eco dan Trio.

Jamu

Dahulu kala masih pakai celana pendek merah, Mi beberapa kali ajak kita ke kedai jamu ini. Barangkali satu-satunya toko jamu di Magelang. Furniturnya, terutama lemari dan meja konter, besar-besar dan megah. Aura jadul benar, belum lagi beberapa potret dalam sepia dan hitam putih. Setelah berabad-abad, aku kembali lagi ke sana. “Itu tokonya yang di tusuk sate,” kata seorang bapak. Dari jauh, aku nggak kenal toko itu. Maka, aku tanya seorang juru parkir. “Itu tokonya,” kata dia sambil menunjuk dengan ibu jari (Jawa Tengah banget!).

12568906_1679269388979186_574808343_n

Wah, toko sudah berubah total, sama sekali tidak kukenali. Semua furnitur sudah berganti dengan rak-rak dan meja konter yang kontemporer, kekinian, layaknya kebanyakan toko. To my surprise, sang “mixologist” berwajah mirip monsieur president harapan bangsa, Joko Widodo.

“Mau minum apa, Ko?” tanya dia, menyebutku ‘koko’ (blame it on my look!).

“Apa ya? Buat hilangkan capek?” tanyaku.

Dia menghidangkan segelas jamu pegal linu lengkap dengan madu dan telur bebek (“biar panas, Ko”) dan segelas kecil minuman berwarna merah (“sirup frambosen, produk Magelang, Ko”).

Jamu kental sekali (basisnya kunyit) dan rasanya asam, manis, sedikit pahit. Pokoknya, mata merek melek meminumnya. Begitu sampai di rumah Om sore itu, entah karena kecapekan atau khasiat jamu, aku langsung tidur pulas. Begitu bangun, badan terasa segar!

Wedhang Kacang

Aku menemukan kedai Wedhang Kacang Kebon waktu kehujanan. Sudah beroperasi sejak 1981, letak warungnya di tepi sebuah kanal tua. Pesananku berupa kacang tanah superlembut (terlembut yang aku pernah makan! Mungkin karena direbus berjam-jam), bola-bola tepung beras berisi kacang (ronde), dan kuah santan-jahe. Wedang ini mengingatkanku pada ragam kuliner Indonesia yang diperkaya kultur peranakan Tionghoa. Nama asli wedang adalah tangyuan (semacam dumpling dalam kuah).

Sambil minum semangkuk wedang, aku mendengarkan denting-denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik di meja sebelah. Dari luar, suara aliran sungai di kanal terdengar lembut, membelai telinga. Aku teringat Mi pernah memasak wedhang kacang pas hujan-hujan juga. Ah, semangkuk wedang yang sanggup menghangatkan tubuh dan hati….

Kita telah tiba di akhir Jamu (+3 Menu Lain) di Kota Mamakku: Kota Magelang. Dalam artikel ini, sengaja aku tidak tuliskan sejumlah detail, agar ada interaktivitas. Kalau ingin informasi lebih atau berbagi pengalaman liburan di Kota Magelang, tinggalkan pesan di Comments. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s