We Are all Made of Clay (Jogja’s Terracotta Biennale)

Pas sampai di Yoyga pertengahan tahun, pas pula ada dua pergelaran seni rupa. Satunya (apa ya namanya? Nanti deh kalau ingat), satunya lagi Biennale Terakota di Kasongan, Bantul. Dapat infonya dari Mbak Sani Dumonde dan Charlie.

Aku pergi ke sana (21 km dari pusat kota) dengan Ojeck atau Jeck-O ya? Pokoknya dia layanan ojek bermeter (argo) yang harganya terjangkau (semoga langgeng usahamu walau kini sudah ada Go-jek di Yogyakarta!) Aku ke Bantul, daerah yang cukup penting di masa kolonial Hindia-Belanda berkat produksi gulanya.

Acara bertempat di kediaman Ki Joko Pekik, seniman senior. Pas sampai di sana, hari masih pagi. Aku masuk ke dalam lewat jalan yang kanan kirinya seperti di hutan bambu di Jepang yang top itu. Sepi suasananya dan asri benar lingkungannya. Di tengah jalan, aku merasa seperti tamu yang akan masuk ke kediaman Suhubudi, ayahnya Parangjati (Bilangan Fu). Begitu sampai di pelataran, barulah aku sadar hari itu aku pakai kaos berwarna terakota. Semacam premonition. Aku diterima dengan baik oleh Bung Noor Ibrahim. Awalnya aku nggak tahu dia seniman yang karyanya juga dipamerkan di sana. Karyanya sebentuk figur Gus Dur, salah satu bapak pluralisme Indonesia. Judulnya pun Pluralisme.

Setelah itu, aku diperkenalkan ke Bung Eko Wijono dan Bung Ismanto Wahyudi, dua seniman yang aku baru kenal hari itu juga. “Wah, nggak tiap hari aku bertemu seniman terkenal!” kataku sebelum minta ditemani melihat karya mereka masing-masing. Aku heran Bung Ismanto sampai tiga kali menawarkan karyanya untuk kubeli. Jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah aku punya wajah “orang-kaya” (jadi ingat tulisan Alfred Russell Wallace di The Malay Archipelago)? Aku jumpa pula dengan kuratornya yang tato-tatonya aku kagumi (beberapa dibuat pakai teknik tradisional Mentawai). Aku juga penasaran, di mana dia beli celana pendeknya.

Jadi, ini adalah festival seni dwitahunan yang khusus untuk karya-karya dari tanah liat, terakota. Kasongan sendiri sudah dikenal dengan gerabahnya. Konon, konsep awalnya, karya-karya seni akan dipasang di tepi Sungai Bedog, Kasongan, sehingga pengunjung dapat melihatnya dengan naik sampan. Tapi, tampaknya rencana berubah. Memang ada satu karya yang dipasang di pinggir sungai. Senang juga menikmati pemandangan sungai di situ.

Melihat pameran ini, aku kembali diajarkan bahwa dari bahan-bahan sederhana, dapat lahir karya-karya seni indah dan inggil. Maka, teringatlah aku akan kisah tentang nenek moyang zaman Majapahit dan sebelumnya, yang mewariskan seni dan keterampilan membuat gerabah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s