Kisah Awak soal Kopi Luwak

Dari yang kuat, keluar minuman. Apakah itu?

Penting nggak? Hahaha…. Jawabannya ada di judul posting ini. Ya, mumpung hawa sedang dingin dan hujan turun tiada henti di seluruh wilayah Sunda Kecil, mari bicara tentang kopi luwak sambil aku minum segelas kopi!

Oh ya, pertanyaan itu sendiri terinspirasi teka-teki Simson alias Samson’s riddle. Di sekolah Minggu, Sem(son) diceritakan bahwa Simson bertanya: dari yang kuat, keluar makanan. Apakah itu? Jawabannya: madu dari lebah yang bersarang di karkas singa.

Pernah suatu kali aku menyusuri kali di Banyumas. Pemandu menunjuk segumpal hitam di rerumput dan bilang, “Ini dia kopi termahal di dunia!” Ternyata itu adalah kopi luwak “mentah”. Geli juga melihatnya. Poo poo! Namun, bukankah semua (well nggak semua sih) yang mahal berasal dari yang kotor? Misalnya sayuran segar di salad “berasal” dari kebun yang diberi pupuk kandang.

Oke, oke, balik ke luwak. Aku membayangkan hewan-hewan berbodi kucing dan berwajah ganteng (believe me, wajah luwak aristokrat!) berpesta coffee cherries pada malam hari, lalu poo poo, lalu tidur, dan kita menemukannya.

Tidak seorang pun dari kita mengambil “emas hitam” itu. Kita berjalan terus sambil aku mendengarkan Pemandu bercerita bahwa dahulu, kopi diperkenalkan ke nusantara oleh Raffles dan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Warga nusantara dilarang minum kopi oleh pemerintah kolonial. Karena itu, mereka membuat kopi dari daun kopi yang disangrai dan mereka juga mengandalkan “kebaikan” luwak dan menantinya buang hajat.

Aku pernah mencoba kopi luwak arabika di satu pameran dagang. Hm, memang lezat itu kopi! Bening, ringan, manis (tanpa gula), aromatik pun. Minumnya pelan-pelan, dirasakan setiap regukannya. Mahal, Saudara!

Pernah satu kali aku pergi ke perkebunan kopi. Di pintu masuk ada kandang besar, isinya seekor luwak sedang tidur. Kalau dikandangkan, gimana dia bisa “bikin” kopi? Kutanya pada pramusaji, apa kopinya dihasilkan dari luwak-luwak tangkaran?

“Oh, tidak, Pak! Luwak yang di kandang itu cuma ‘contoh’ saja, biar orang bisa lihat seperti apa binatangnya. Kopi luwak ya dihasilkan luwak-luwak yang kami lepasliarkan di perkebunan,” kata dia.

Kuharap dia mengatakan yang sebenarnya, mengingat waktu itu sedang hangat pemberitaan gerai retail di Inggris menolak kopi luwak Indonesia karena kopi dihasilkan luwak-luwak yang dikandangkan dalam gelap sehingga tiada mengenal terang hari. Kopi itu dinilai tidak dihasilkan secara etis, tidak free range, dan tidak dihasilkan oleh luwak-luwak yang bahagia.

Kusimpulkan, isu ketidakbahagiaan luwak, upah rendah pengumpul feses luwak, dan keaslian (yang bukan kopi luwak malah dilabeli kopi luwak) adalah tantangan produsen dan konsumen kopi luwak di Indonesia.

Di perkebunan kopi itu, aku kembali termenung. Entah siapa yang mencetuskan ide produksi tani free range. Dia berteori bahwa ternak yang berbahagia (diperlakukan dengan etis, diberi waktu untuk bebas berkeliaran) akan memberi hasil yang bagus. Pastilah dia juga yakin bahwa kebahagiaan itu bisa menular. Lucu juga. Bisa jadi benar. Jadi, ketika aku minum kopi luwak yang dihasilkan luwak yang berbahagia, suka citaku dapat berlipat ganda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s