My Indochina Trip: For the Love of Coffee!

Kalau ada benang merah (atau hijau, atau mungkin hitam) dari perjalananku ke empat negara Indochina, itu adalah coffee culture. Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia punya kecintaan yang besar akan kopi, lebih tepatnya es kopi. Rasanya nikmat dan—mengingat keempatnya negeri tropis—menyegarkan. Walaupun di keempat negeri ini gerai kopi waralaba atau kafe (in the real sense sebagai tempat yang menjual kopi) mudah ditemukan, aku lebih memilih tempat-tempat kebanyakan, yaitu tempat warga lokal minum kopi. Pertama karena alasan anggaran, tapi juga lebih ke alasan buat-apa-jauh-jauh-pergi-kalau-toh-waralaba-itu-ada-juga-di-Bali.

Selama ini, kalau menyoal kopi yang dingin, aku lebih suka cold brew coffee, tapi karena di sana yang lebih banyak tersedia adalah kopi yang diberi es alias iced coffee, jadilah aku suka juga. Kebanyakan adalah kopi dengan susu kental manis alias sweetened condensed milk. Tapi ada juga praktik pemakaian lemak nabati dan gula, barangkali demi membuat harganya terjangkau.

Bangkok
menawarkan es kopi dengan susu atau krimer dan gula. Aku mencoba keduanya. Tentu, aku juga mencoba es kopi hitam (mereka pakai kopi instan). Rasanya ya-bolehlah. Di hari terakhir, aku secara tidak sengaja menemukan kopi enak di seberang MBK Centre, yaitu di Bangkok Art & Culture Centre.

Di sana, Amnesty International Thailand sedang berpameran. Dikemas lucu dan menarik, kampanye-kampanyenya adalah friendly reminder bahwa setiap manusia punya kebebasan antara lain memeluk agama dan berekspresi. Mereka juga galang dana, dengan menjual suvenir dan kopi lokal. Karena baht-ku nyaris habis, aku hanya bisa beli gantungan kunci dan secangkir kopi jenis arabika dari Tepsadet, Chiangmai. Diseduh pakai French press, kopi ini beraroma earthy dan cokelat. Inilah satu-satunya “proper” coffee selama libur di sana. Senang bisa mencicipi kopi lokal di negeri eksportir kopi terbesar ke-18 dunia!

 

Ho Chi Minh
menawarkan coffee culture yang khas, mengingat Vietnam adalah eksportir kopi terbesar kedua dunia dan warganya bangga akan fakta itu. Aku banyak kali melihat mereka sedang ngopi, baik kopi hitam maupun es kopi. Kopi (umumnya robusta) diseduh pakai drip coffee, sehingga bebas ampas. Penjual selalu tanya, “Milk? No milk?” Aku mencoba keduanya, baik panas maupun es. Kopinya kencang aka strong! Gila, 1 teguk saja, 2 mata ini melek 5 jam! Istilahnya….

Dulu, pernah minum kopi vietnam di Vietopia di Jakarta dan kurang suka, di HCMC kok jadi suka ya? Mungkin itulah yang dinamakan “sensasi perjalanan”, semua terasa istimewa di tempat asalnya, tak terkecuali kopi. Di hari terakhir, sekitar 15 detik sebelum semua orang menemukanku di pintu pasar (jemputan ke bandara sudah tak sabar pergi!), aku berhasil membeli drip coffeemaker.

Singapura
negeri yang tiada berpunya perkebunan kopi ini menawarkan kopi yang oke juga. Setelah kutanya (penjual di sini galak-galak hahaha), kopi yang dipakai produk Malaysia, negeri tetangga. Aku mencoba kopi-kopi “khas”, seperti kopi peng (es kopi dengan susu kental manis) dan kopi o (kopi hitam). Kalau malam sudah tiba, ternyata sulit menemukan kopi. Mereka bilang, “No mo, no mo. Ko-pi tu-mo-ro mo-ning!

Kopi, Anyone? (a la Singapore)
Kopi: kopi dengan susu
Kopi-o: kopi tanpa susu
Kopi-c: kopi dengan susu kental manis
Kopisiu-dai: kopi dengan sedikit gula
Kopi peng: kopi dengan es
Kopigao: kopi yang nendang aka strong
Kopipao: kopi dibungkus alias bawa pulang

 

Kuala Lumpur
menawarkan kopi seperti yang ada di Singapura. Penyebutannya pun mirip. Di sini (juga di Bangkok, HCMC, Singapura), kopinya alamak, manis sangat! Aku selalu pesan, “Less sugar please.” Mujurlah diriku, ada satu ibu penjual kopi yang ramah dan mengajariku cakap Melayu: “Less sweet” adalah “kurang manis”. Lucu juga karena dalam bahasa Indonesia, “kurang manis” bermakna “gulanya terlalu sedikit”. Yang pasti, kalau aku balik ke sana lagi, aku sudah hafal pesananku dalam bahasa Melayu: “Saya pesan kopi o ais kurang manis!

Advertisements

3 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s