Si Pendaki Pemula Hiking ke Gunung Batur Bali

Duluuuu, kalau ada yang ajak naik gunung, aku langsung tanya, “Gunung Sahari?” Maksudnya kuliner Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Sebagai penyuka kenyamanan, aku lebih suka santai di pantai. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir naik gunung, jadi agak sedikit terlalu malas rasanya untuk menapak di jalan yang terjal…. Rada kapok juga.

Belum lama ini, aku diajak naik Gunung Batur. Kubilang, “Lihat nanti.” Hmm, Batur? Teringatlah aku akan kisah seorang rekan tapi lupa yang mana. Dia bilang, “Batur itu santai banget nanjaknya. Nggak tinggi-tinggi banget kok.”

Macam 2 jam menjelang pergi, aku belum siap-siap. Aku kembali ditanyai, “Jadi ikut?”

“Jadi deh,” sahutku.

Rada paniklah aku cari senter, ransel, botol minum, beanie, baju ganti, dan kamera. Sialnya, aku belum cuci baju. Setelah dicek, yang masih tersisa: baju renang lengan panjang (why yes, Ricka aja naik ke puncak Semeru pakai wetsuit!), windbreaker (thanks Kak Es!), kaus kaki pun yang tersisa cuma dua (gak matching!), daaaaan…nggak ada celana panjang! Akhirnya kupakailah celana tidur batik. Pikirku, “Cuek aja, toh naik gunung malam-malam.”

Di base camp, kita tidur sebentar sebelum makan, lalu naik. Tiketnya 10,000 dan guide 250,000. Ternyata, jalan kaki pagi gelap-gelap menyenangkan juga. Udara masih dingin dan segar dan rute awal cukup landai. Berkat lampu senter ekstrahebat dari Pi, path-nya terlihat jelas. Belum juga jalan 30 menit, rutenya menanjak. Ngos-ngosan deh si calon pendaki pemula itu…

Untunglah aku jalan dengan dua duta crossfit dan untung juga aku sering olahraga kardio naik sepeda, walau rutenya cuma rumah-warung-rumah. Dengan sedikit istirahat, sedikit minum, sedikit permen mint, perjalanan dilanjutkan. Benar saja, dalam 1,5 jam, kita sudah sampai di puncak. Yaaaaaaaay! Aku sampai nggak percaya. Cubit-aku-apakah-aku-bermimpi moment.

sempurba-mine-2

Senang bisa lihat puncak Gunung Abang, Gunung Agung, dan bahkan Samudra Hindia dari atas. Majestic! Danau Batur keren banget. Di atas, aku baru nyadar bahwa danau terbesar Bali itu adalah kaldera. Dan desa-desa di sekitarnya ada di tepi kawah. Ruarrr biasa! Pas jalan pulang, aku hepi bisa lihat banyak tumbuhan favorit, termasuk edelweiss jawa dan kacang undis.

Salah satu pendakian paling enjoyable dalam hidupku. Kalau ada ajakan naik gunung, aku akan pertimbangkan. Seperti kata Justin Bieber, never say never!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s