Catatan Harian Sepeda Motor di Bali Timur

Garis pantai Amed panjang dan bagus, isi lautnya cantik.  Aku sudah beberapa kali ke kota kecil di Karangasem itu, tapi baru kali ini menginap lama di Amed untuk liburan yang aku sudah rencanakan dan nantikan bahkan dari sebelum mall-mall memasang hiasan dan lagu Natal. Liburan ini spesial karena menjadi yang pertama kali aku naik motor bonceng penumpang dan pertama kali pula ke Amed di musim penghujan….

Hari 1: Touch down Amed

Di peta digital, Jimbaran ke Amed tepat 100 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 39 menit. Nyatanya pada jam ke-3, aku dan Rosa masih ada di tepi jalan kota Amlapura. Kita berhenti untuk minum dan merenggangkan otot. Kita segera masuk ke toko buah dan beli kelapa muda. Unik betul buahnya: hijau kulitnya, merah muda (bukan putih) sabutnya.

Selain menghapus dahaga, kesegarannya berhasil menghapus kekhawatiran akan keamanan jalan: apa bakal licin, macet, dan seterusnya. Maklum, ini pertama kali aku jalan jauh bonceng penumpang alias “bawa anak orang”. Rosa pun baru pertama kali jalan jauh naik motor. Untunglah motor sewaan bisa diandalkan. Helmnya pun tidak bau tengik. Terlihat betul pemilik rental merawatnya dengan baik.

Setelah beberapa kali berhenti untuk minum dan foto-foto—salahkan pemandangan yang bagus sepanjang jalan—sampailah kita di penginapan pada jam ke-4. Kamar yang aku sudah book 2 minggu sebelumnya sesuai harapan: luas, bersih. Letaknya di pinggir ladang dengan pemandangan bebukitan. Dari pintu depan, pantai sudah terlihat.

Setelah menaruh barang, kita menyusuri Amed sambil menikmati pemandangannya yang “molek” (istilah seorang teman di Yogyakarta) berkat gugusan perbukitan di tepi laut. Sore itu, langit murung dan gerimis turun, tapi kita tetap jalan tanpa pakai jas hujan. Terbukti, gerimis cuma sebentar. Meski laut sangat dekat, kita menahan diri sampai esok dan duduk-duduk di puncak bukit untuk melihat matahari tenggelam dan Teluk Jemeluk.

Hari 2: Gunung-bukit-laut

Kita bergegas ke Tulamben untuk (meminjam istilah Nabi Daud) “membangunkan fajar”. Sekitar 10 menit kemudian, sampailah kita di satu spot yang memberikan pemandangan gunung dan laut. Kalau aku melayangkan mataku ke laut, di sana tampak matahari muncul di garis cakrawala. Kalau menoleh, tampaklah pemandangan Gunung Agung. Karena merupakan titik tertinggi di Bali, Gunung Agung tampak jelas, bahkan dari Amed.

Setelah itu, kita balik ke Amed untuk sarapan, mandi, lalu hit the road sambil bawa peralatan snorkeling menuju Jemeluk. Pantai Amed berpasir hitam dan berbatu-batu. Meski begitu, pemandangan bawah airnya penuh warna. Aku bahkan lebih suka snorkeling di Amed daripada di Tulamben. Begitu menceburkan diri, hujan turun deras. Untunglah, visibilitas nggak terpengaruh dan kita puas mengamati lantai laut berikut belut moray, lobster, aneka ikan dan koral.

Pas enak-enaknya snorkeling, tiba-tiba Rosa berenang sprint ke darat. Aku bingung, jangan-jangan ada hiu? Akhirnya aku ikut naik. “Ada apa?” tanyaku. “Lapar!” jawab dia, terbahak. Kupikir apa! Dengan masih pakai baju snorkeling (toh hujan pula), kita pergi ke Warung Celagi yang jaraknya sekitar 150 meter. Kita pesan sup mi, teh panas (“Pakai air mendidih ya, Mbok”), onion ring. Warung ini terkenal enak dan harganya terjangkau.

Setelah makan, kita ganti pakaian kering dan lanjut menyusuri bebukitan. Amed nggak hanya menghasilkan seafood dan garam, melainkan juga jagung dan komoditas tani lainnya. Senang lihat bebukitan menghijau. Terakhir ke situ, pas kemarau. Melihat ngarai-ngarai kering telah menjadi sungai, suka citaku meluap, sebesar aliran airnya.

Hari 3:  Lebih banyak vitamin Sea

Kita menghabiskan banyak waktu di laut, sesuai rencana awal liburan. Dimulai dengan “membangunkan fajar” di sebuah desa nelayan dan mengobrol dengan warganya. Setelah sarapan, kita sepakat mencari lokasi snorkeling lain, yaitu Japanese Wreck. Cukup jauh dari penginapan, tetapi, thanks to pemandangan yang molek, perjalanan panjang tak terasa.

Jarak antara bibir pantai ke lokasi kapal karam sekitar 50 meter, nggak perlu jauh mengayuh ke bangkai kapal (konon) dari era Perang Dunia II itu yang kini sudah tertutupi koral keras dan lunak. Aku menikmati pemandangan penuh warna sebelum arus bawah menerbangkan pasir dan mengaburkan pandangan. Kita pun memutuskan pindah lokasi ke Jemeluk.

(Also read: Tips Menikmati Liburan Musim Hujan)

Hari 4: Wisata kuliner

Setelah sarapan dan mengepak ransel, kita bertolak pulang tanpa lupa mencicipi makanan khas, terutama favoritku: sate gurita lengkap dengan sambal dan saus kuning. Sebenarnya, selama 4 hari libur, ada banyak makanan yang kita cicipi, antara lain lumpia ala Bali (lengkap dengan saus dan taburan irisan cabai rawit), ayam panggang sambal matah. Lalu, ada pula sate babi dan sate ayam yang fresh dan gurih banget, dibeli dari pedagang sate di bawah pohon asam.

All in all it was a pretty nice trip. Aku bersyukur perjalanan ini menyenangkan. Benar kata temanku, “Berapa kali pun kamu ke Bali, kamu nggak akan bosan.” Ya, bahkan di musim hujan, Bali Timur tetap menarik. Dan yang penting, trip ini aman. Sebelumnya aku ragu apa bisa bonceng penumpang sejauh itu, apa bisa navigasi di jalan licin dan nggak mulus, apa aku bisa menyalip rentetan truk yang “memblokade” jalan. You never know until you try!

Kita sudah tiba di akhir Catatan Harian Sepeda Motor. Terima kasih atas kunjungannya. Dalam artikel ini, sengaja aku tidak tuliskan sejumlah detail mengenai penginapan dan rental, misalnya, agar ada interaktivitas. Kalau ingin informasi lebih atau berbagi pengalaman liburan di Bali Timur, tinggalkan pesan di Comments.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Deus says:

    Bole mnt kontak utk penyewaan mtrnya.thx

    Like

    1. Tentu boleh. Kontak Fira di Harry Rental Bike, Bali: 081 21 886 288

      Like

  2. traveller says:

    tulisan blognya bagus kak, navigasinya agak bingung :-)

    terus menulis kak , untuk inspirasi kami

    Like

    1. Oh thanks atas masukannya. Nanti navigasi dipikirkan utk dipermudah :)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s