Puji-pujian untuk Bunga Kemboja (Sejarah Alami Plumeria)

Musim hujan selalu mengingatkanku akan suatu percakapan dengan temanku. Sebut saja Mawar karena namanya adalah Rosa—terang-terangan berakar pada genus tanaman mawar. Waktu itu, ada bersama kita A. dan R. Kita berempat dalam perjalanan ke Sukabumi dan hujan turun tiada henti. Mendekati Citarik, kita kaget melihat perkebunan sawit.

Gue pikir selama ini perkebunan sawit hanya ada di luar Jawa. Ternyata…,” kata Mawar, eh Rosa.

Perkebunan itu cukup luas. Sejauh mata memandang luasnya. Barangkali karena perkebunan itu sepi dan langit sudah mulai gelap walau masih siang, entah bagaimana, Rosa tiba-tiba membahas kemboja, bunga yang sering dilafalkan seperti nama negara.

“…Serem tau, di halamannya ada pohon kamboja…,” kata dia, lalu menggambarkan detail dari pohon kemboja berikut jenis makhluk halus (jika memang ada) yang, menurut dia, menjadikan pohon itu “rumah”. Mendengar (dan membayangkannya), merinding juga aku. Sial!

Kemboja, kita tahu, adalah tanaman yang biasa terdapat di pekuburan di Pulau Jawa dan Sumatra, sehingga dia juga dinamakan bunga kuburan. Para insan film dan sinetron Indonesia sering menjadikannya “bintang film”, sehingga kemboja makin identik dengan hal-hal seram dan mistis.

Sambil mengusap bulu-bulu yang berdiri di tangan, aku teringat akan artikel yang pernah kubaca di entah-majalah-apa, “Kemboja bukan tanaman asli Indonesia, lho. Kelapa sawit juga bukan.”

“Apa hubungannya?” tanya Mawar, eh, Rosa.

“Kelapa sawit itu dari Afrika, sementara kemboja itu dari Amerika Tengah. Jadi, seharusnya kita nggak takut,” kataku, bikin analisis sekenanya, sebab merasa takut itu nggak menyenangkan.

“Seandainya kamboja tanaman asli Indonesia, kita boleh takut?” tanya dia, tertawa.

Kita semua dalam mobil hanya tertawa. Setelah itu, topik beralih ke topik lain. Sambil mendengarkan teman-teman mengobrol, aku membayangkan perjalanan plumeria (frangipani) dari Amerika Tengah ke nusantara. Bagaimana bunga innocent itu kemudian ternaturalisasi menjadi “sosok” yang menyeramkan?

kemboja-sempurba

Aku suka baca-baca tentang sejarah alami. Natural history hewan dan tumbuhan nggak hanya menyajikan “profil”, tetapi juga sekalian latar belakangnya. Bulan lalu, misalnya, untuk pertama kalinya aku tahu bahwa singkong yang “Indonesia banget” itu ternyata juga bukan asli nusantara. Siapa sangka!

Mempelajari natural history menurutku bermanfaat. Paling tidak dalam kasus kemboja, mengetahui sejarah kemboja telah membebaskanku dari “kemampuannya” untuk membangkitkan rasa takut. Dan di tempatku tinggal, ada dua pohon kemboja yang tiap hari memberiku bunga-bunga yang wangi. Bagaimana aku nggak bahagia?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s